Tidak sedikit produser yang melarang
artisnya latihan vokal karena khawatir karakternya akan berubah. Kenapa
begitu, karena produser juga harus melihat dari sisi bisnisnya selain
musiknya sendiri. Ia khawatir karakter yang berubah akan berpengaruh
buruk pada penjualan artisnya. Masuk akal dari sudut pandang bisnis.
Tapi menurut saya harusnya tidak begitu.
Karakter terbentuk dari kehidupan si penyanyi. Musik apa yang ia
dengarkan, lingkungannya bermusik, dsb. Sehingga karakter itu sebetulnya
tidak perlu dibentuk dan dibuat, melainkan ditemukan. Jika pun penyanyi
menemui pelatih vokal, itu adalah untuk si pelatih membantu penyanyi
dalam proses “menemukan” karakter, bukan membentuknya.
Apa sebenarnya tujuan dari latihan vokal? Antara lain adalah melatih
teknik vokal yang baik dan benar, agar vokalnya tetap prima menjalani
profesi penyanyi yang menantang. Jadi sama saja sebetulnya dengan
melindungi aset bisnis. Jadwal penyanyi profesional sangatlah padat. Ada
rekaman, latihan, manggung, promo di media, dsb. Sementara suaranya
bisa lelah dan iritasi jika terus menerus digunakan dengan teknik yang
tidak baik. Bahaya kan?
Tidak bisa dipungkiri memang banyak pelatih vokal yang “mencetak”
penyanyi dengan ciri tertentu. Misalnya satu sekolah vokal muridnya
rata-rata bernyanyi dengan gaya yang seragam. Tapi ini gaya lama menurut
saya. Kalau seorang penyanyi berlatih untuk bernyanyi di opera tentu
memang harus “dibetulkan” karakternya untuk memenuhi pakem opera. Tapi
untuk penyanyi kontemporer seperti pop, jazz, dan rock, saya merasa
pakemnya justru adalah nyanyi dengan orisinil dan unik.
Latihan vokal seharusnya tidak merubah karakter penyanyi. Tapi justru
mendukung dan melindungi karakternya tersebut. Contohnya pelatih vokal
legendaris yang melatih Michael Jackson, Stevie Wonder, Ray Charles,
dll, yaitu Seth Riggs, beliau tidak merubah MJ jadi mirip Ray Charles
kan.
Sumber: vokalplus