Kamis, 04 April 2013

Karakter vs Latihan Vokal

Tidak sedikit produser yang melarang artisnya latihan vokal karena khawatir karakternya akan berubah. Kenapa begitu, karena produser juga harus melihat dari sisi bisnisnya selain musiknya sendiri. Ia khawatir karakter yang berubah akan berpengaruh buruk pada penjualan artisnya. Masuk akal dari sudut pandang bisnis. Tapi menurut saya harusnya tidak begitu.

Karakter terbentuk dari kehidupan si penyanyi. Musik apa yang ia dengarkan, lingkungannya bermusik, dsb. Sehingga karakter itu sebetulnya tidak perlu dibentuk dan dibuat, melainkan ditemukan. Jika pun penyanyi menemui pelatih vokal, itu adalah untuk si pelatih membantu penyanyi dalam proses “menemukan” karakter, bukan membentuknya.

Apa sebenarnya tujuan dari latihan vokal? Antara lain adalah melatih teknik vokal yang baik dan benar, agar vokalnya tetap prima menjalani profesi penyanyi yang menantang. Jadi sama saja sebetulnya dengan melindungi aset bisnis. Jadwal penyanyi profesional sangatlah padat. Ada rekaman, latihan, manggung, promo di media, dsb. Sementara suaranya bisa lelah dan iritasi jika terus menerus digunakan dengan teknik yang tidak baik. Bahaya kan?

Tidak bisa dipungkiri memang banyak pelatih vokal yang “mencetak” penyanyi dengan ciri tertentu. Misalnya satu sekolah vokal muridnya rata-rata bernyanyi dengan gaya yang seragam. Tapi ini gaya lama menurut saya. Kalau seorang penyanyi berlatih untuk bernyanyi di opera tentu memang harus “dibetulkan” karakternya untuk memenuhi pakem opera. Tapi untuk penyanyi kontemporer seperti pop, jazz, dan rock, saya merasa pakemnya justru adalah nyanyi dengan orisinil dan unik.

Latihan vokal seharusnya tidak merubah karakter penyanyi. Tapi justru mendukung dan melindungi karakternya tersebut. Contohnya pelatih vokal legendaris yang melatih Michael Jackson, Stevie Wonder, Ray Charles, dll, yaitu Seth Riggs, beliau tidak merubah MJ jadi mirip Ray Charles kan.

Sumber: vokalplus

Menentukan Nada Dasar Vokal

Buat para singers, saat menentukan nada dasar, perhitungkan juga situasi kondisi sekitar. Karena range vokal bisa terpengaruh. Misalnya, di situasi yang tenang dan santai, suara kita biasanya lebih rendah. Misalnya di studio atau kamar yang sepi dan kita duduk santai. Sedangkan di situasi yang ramai, berisik, suara kita cenderung lebih tinggi. Misalnya di stadion, kita dalam keadaan excited.

Pernah perhatikan atlet sepakbola diwawancara di stadion dan bedanya saat diwawancara di studio. Suaranya saat di stadion lebih tinggi. Atau petinju diwawancara di atas ring setelah bertanding, suaranya lebih tinggi ya. Nah ketika kita di panggung, itu seperti atlet di stadion. Ada excitement, dan adrenaline juga. Sehingga nada yang ketika di coba di studio/kamar rasanya biasa, saat di panggung bisa terasa kerendahan. Dan nada yang tadinya ketinggian, kita bisa sampai lebih mudah. Kenapa bisa begitu?

Secara teori, nada rendah diproduksi dengan kecepatan udara yang rendah, sedangkan nada tinggi, sebaliknya. Kecepatan lho ya, bukan power. Nah, dalam situasi panggung, suasana sekitar lebih berisik, plus dorongan adrenaline, membuat badan kita otomatis lebih “siap tempur”. Jadi, jangan buru2 menentukan nada dasar sebuah lagu. Semakin kita berpengalaman, semakin cepat kita melakukannya.

Sumber: vokalplus

Rabu, 27 Maret 2013

Sedikit Mengenai Gitar Bass

Gitar Bass

Gitar Bass elektrik (biasa disebut Bass elektrik atau Bass saja) adalah alat musik dawai yang menggunakan listrik untuk memperbesar suaranya. Penampilannya mirip dengan gitar listrik tapi ia memiliki tubuh yang lebih besar, leher yang lebih panjang, dan biasanya memiliki empat senar (dibandingkan dengan gitar yang memiliki enam senar).


Bobot dari bass sendiri idealnya lebih berat daripada gitar listrik biasa, karena senarnya yang lebih tebal (untuk menjaga kerendahan nada/bunyi) sehingga menyebabkan harus memilih kayu yang lebih padat dan keras untuk menyeimbangi tekanan pada neck (leher gitar).Selain itu ukuran fret (kolom pada gitar) yang lebih besar yang disesuaikan dengan panjang senar (scale).

Ada banyak jenis bass yang dipakai sampai dengan saat ini. Yang paling banyak dipakai berupa contra bass dan cello bass (yang biasa digunakan untuk pertunjukan opera), bass listrik (biasa digunakan untuk semua jenis pertunjukan terutama band) serta bass fretless yang sama dengan bass listrik tapi tidak ada fret (kolom/pembatas pada papan tekan/neck) pada bass tersebut. Prinsip kerja bass fretless mirip dengan contra/cello bass hanya saja berbentuk gitar listrik.

 

Senar dan Penalaan (Tuning)


  • Empat senar

Biasanya ditalakan ke "G-D-A-E", "G-D-A-D", "G-D-G-D", "D-A-E-B", "D-A-D-B (biasanya pola ini dipakai untuk musik-musik underground/ open D), "F-C-G-D" atau "F-C-G-C" Tetapi ada juga yang memakai Piccolo Bass dengan pola biasa "G-D-A-E" tetapi satu oktaf lebih tinggi

  • Lima senar

Biasanya ditalakan ke "G-D-A-E-B", "F-C-G-D-A" tapi kadang-kadang "C-G-D-A-E".

  • Enam senar

Biasanya ditalakan ke "C-G-D-A-E-B", walaupun "E-B-G-D-A-E" juga suka dipakai.

Penalaan di atas diurutkan berdasarkan nomor senar (senar 1, senar 2, dan seterusnya), di mana senar 1 adalah senar terbawah dari gitar bass (senar yang paling tipis).


Pemain bass memilih menggunakan bass dengan lima senar atau pun enam senar dikarenakan lebih luasnya jangkauan nada yang bisa dimainkannya. Bass bersenar enam jarang dipakai daripada bass bersenar empat dan bass bersenar lima. Biasanya bass bersenar enam ini banyak dipakai oleh pemain bass beraliran jazz, walaupun tidak dimungkiri pemain beraliran rock-pun ada juga yang memakainya, dikarenakan lebih luasnya jangkauan nada yang bisa dimainkannya serta memungkinkan untuk memainkan lead bass yang lebih variatif.

Sumber: wikipedia